Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Chic Pics

Photo AlbumAug 18, '07 2:37 AM
for everyone
Published in Kolom Kolom Kawin, April 2007

Fathia yang baik,

Pernah kamu bertanya, berapa persen cinta saya pada kamu?

“Tidak sampai seratus persen”.

Kamu mengeluh, dan beberapa hari kemudian mengajukan pertanyaan serupa. Jawaban saya tetap – bukan yang ingin kamu dengar. Di kesempatan lain kamu mengulangi “tekanan politik” dengan mengajukan pertanyaan sama.

Saya tahu kamu lebih suka saya berbohong – dengan mendayu-dayu, dengan mengutip lagu pop atau ungkapan klise remaja di sinetron yang sedang merayu gadis pujaannya, meski tak sampai berlutut atau menyembul dari balik pohon sawo seperti jagoan Bollywood. Karena kali itu saya tak ingin berdusta, maka saya tetap menjawab “tidak seratus persen”. Saya hanya bisa menambahkan bahwa cinta saya – sepanjang yang mampu saya rasakan saat itu – pasti besar, cukup besar untuk membangun sebuah landasan kebersamaan hidup kita. Dan saya pun tidak mengharap kamu mencintai saya seratus persen.

Sampai akhirnya kamu mengerti, dan tiba pada kesimpulan gemilang: “Saya setuju. Saya tahu, kalau cinta kamu seratus persen, kamu tak punya ruang lagi untuk berpikir.”

Dan tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati.

Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Kamu seolah memetik buah dari pohon kearifan yang sama dengan yang mengilhami Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kamu menginsafi, perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu.

Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa. Biarlah sudut terpencil di bilik jantungmu turut saya rawat untuk kamu, sambil saya percaya bahwa di sana ada saya. Tolong pelihara juga sudut eksklusif saya.

Dan kemudian kamu setuju menikah.

Sudah tentu saya berterima kasih atas kesediaan yang lekas ini. Seperti kamu, saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan.

Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Apakah peristiwa-peristiwa seperti itu bagian dari rahasia alam, satu dari misteri kehidupan yang tak terhingga banyaknya? Saya tak tahu. Bahkan, seperti berulang kali saya katakan, saya tak pernah tahu alasan lengkap mengapa saya mencintai kamu.

Saya hanya sanggup mengungkapkan beberapa saja – kamu sangat cerdas, kamu membaca buku-buku bermutu, kamu cantik, punya minat yang luas, punya nyali besar untuk mengambil tanggung jawab dan risiko-risiko yang tak kecil, kamu pekerja keras, berambisi untuk melakukan banyak hal secara lebih baik, kamu jujur, berterus terang hampir dalam masalah apapun, efisien, berusaha menikmati hidup sepenuh-penuhnya, percaya bahwa masih banyak prestasi besar yang sanggup kamu raih di masa depan, kamu baik hati (meski tak selalu mau menunjukkannya, mungkin karena dibayangi anggapan umum yang sering mengidentikkan kebaikan hati dengan kelemahan atau kebodohan dan keluguan). Saya akan menunggu dengan berdebar terungkapnya sejumlah alasan lain setelah kita hidup bersama nanti; saya akan ungkapkan dalam surat-surat selanjutnya, dengan mencicilnya, mungkin sampai bertahun-tahun lagi.

Fathia yang memikat,

Meski cinta pada dasarnya emosional, keingintahuan orang di sepanjang sejarah selalu berusaha memperluas pangsa rasionalnya. Geloranya universal. Semua kebudayaan besar memiliki epos cinta masing-masing – Rama & Shinta, Romeo & Juliet, Qais & Layla, Sam Pek Eng Tay, Tristan & Isolde, Marc Anthony & Cleopatra. Daya pukau kisah-kisah itu, bahkan berikut kepahitan dan tragedi mereka, terus memancar sampai hari ini, mendorong para penggubah menulis pelbagai versi turunan; membuat nama-nama itu bagian integral dari nomenklatur sebuah bangsa dan bahasa mereka masing-masing, bahkan menjadikan nama-nama itu idiom bahasa dan budaya universal.

Tapi keuniversalan cerita mereka tak pernah mampu mereduksi kekhususan kisah cinta orang-orang biasa seperti kita. Teks besar cinta mereka tak membuat cinta kita sekadar catatan kaki. Bukankah kita pun merasakan segenap getaran yang tak terkira, yang tak terkatakan itu? Getaran yang membuat kita hanya mampu menangis, satu-satunya cara kita menyerah karena tak sanggup merumuskannya dengan seluruh simpanan perbendaharaan kata kita?

Itu sebabnya beribu-ribu lagu terus ditulis orang di seputar cinta. Setiap hari kita mendengar lahirnya lagu baru tentang tema ini. Dan pernahkah kamu menerka-nerka berapa novel dan film bertema cinta yang pernah dibuat orang? Tak akan pernah ada yang mampu menghitungnya.

Bahkan pada lagu-lagu tak bersyair pun kita bisa merasakan kedalaman yang hening tapi menggelisahkan itu. Dengarlah Fur Elise Beethoven. Saya selalu terpana setiap mendengar denting piano sonata berusia 200 tahun yang sampai hari ini terus direproduksi untuk berbagai keperluan itu – dari bel pintu dan musik permanen penjual es krim keliling sampai nada dering telepon seluler terbaru dan ilustrasi musik film mutakhir. Setiap mendengarnya saya berusaha meraba amuk cinta Beethoven pada Elise. Selalu gagal. Saya hanya menangkap ketulusan, keagungan, kesyahduan cinta di sana – juga kegemasan, ketaksabaran dan kadang ketakkuasaan membendung luapan perasaan yang menerjang-nerjang liar tak terkendali.

Fathia yang menawan,

Meski kamu Elise, maafkan saya karena saya bukan Beethoven – orang yang juga membuat saya tak habis heran karena ia menulis Symphony No.6, sebuah puisi musikal yang mengiris (saya menyukai interpretasi Cleveland Philharmonic Orchestra). Pusat Studi Beethoven di Universitas Colorado menyimpan beberapa puluh lembar rambut maestro Jerman itu, dan dari sana menyimpulkan bahwa tingginya kadar timah dalam air minum dan air mandinya adalah penyebab ia cepat tua dan berambut perak. Tapi saya lebih tertarik untuk tahu dari lapisan batinnya yang manakah ia mengeluarkan Fur Elise – juga Das Lebowl, rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan kekasih.

Saya tahu lapis-lapis terdalam perasaan saya pun menyimpan energi cinta yang besar terhadap kamu. Saya bisa merasakannya. Saya bahkan kadang bisa menangkapnya dengan cukup jelas. Maafkan saya kalau belum mampu menariknya ke luar – meski tak harus berupa puisi bunyi seperti Fur Elise.

Mengapa kamu dan saya, kita, tetap berani menikah di tengah kepungan wajah-wajah murung akibat ketakbahagiaan perkawinan mereka; di tengah serakan marriage jokes yang membuat kita tergelak tapi juga miris?

Kamu pasti ingat sejumlah lelucon ironis itu. Ada yang bilang perkawinan ideal adalah antara perempuan buta dan lelaki tuli – si isteri tak akan melihat ulah suaminya yang menjengkelkan, sang suami tak bisa mendengar omelan isteri yang tak pernah putus.

Seorang suami mengaku tak takut lagi pada terorisme karena sudah menikah selama dua tahun. Katherine Hepburn menyilakan para gadis untuk menikah jika mereka “ingin mengganti kekaguman dan pemujaan ribuan lelaki dengan kritik satu orang” – suami, konon, selalu hanya melihat kekurangan isterinya.

Setelah tujuh atau dua belas kali menikah, Zsa Zsa Gabor mengaku tak kapok kawin asalkan suami berikutnya “berusia 85, punya simpanan seratus juta dolar, dan mau menandatangani perjanjian bahwa enam bulan lagi dia akan mati.” Dan dewi Hollywood itu mengaku tak mengerti apa-apa tentang seks, “karena saya selalu menikah.”

Agatha Christie juga tak henti berganti suami, dan sampai pada kearifan untuk ia sarankan pada gadis-gadis yang sedang mencari pasangan hidup: kawinlah dengan arkeolog, sebab makin tua kita (isteri) akan makin tertarik dia. Jika suami bukan ahli purbakala, semua perempuan sudah tahu apa yang sering terjadi.

Apa resep perkawinan yang awet? Seorang suami mengaku dia dan isterinya sanggup menjaga perkawinan selama tujuh belas tahun karena mereka rutin makan di restoran yang baik, dengan red wine lezat dan temaram candle light yang membangun suasana mesra. “Saya melakukannya tiap Senin malam,” katanya, “dan isteri saya Kamis malam”. Suami lain mengaku rumah-tangganya benar-benar bahagia selama dua puluh tahun – tapi kemudian ia dan isterinya tinggal serumah.

Mungkin catatan tertua tentang ironi semacam ini adalah dari Socrates, dari masa sekitar 2500 tahun silam. “Bagaimanapun, kawinlah”, sarannya pada para pria. “Jika kau mendapatkan isteri yang baik, kau akan bahagia. Jika kau mendapat isteri yang buruk, kau akan jadi filosof.” Kini kita tahu kenapa dia jadi filosof.

Mungkin benar bahwa perkawinan itu seperti benteng terkepung: yang di dalam ingin keluar, yang di luar ingin masuk. Atau kita termasuk golongan yang disindir Voltaire, yang mengumumkan bahwa perkawinan adalah satu-satunya medan petualangan yang terbuka bagi para pengecut?

Jadi, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah sekadar karena kita, di tengah konstruk masyarakat tempat kita hidup ini, tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi kebersamaan hidup kita tanpa dukungan dokumen-dokumen negara dan aturan agama – hal-hal yang tak berhubungan dengan cinta yang merekat kebersamaan kita? Juga karena kita tak akan sanggup melawan kuasa negara yang tak akan memberi status hukum bagi anak-anak yang mungkin lahir dari kebersamaan kita?

Atau mungkin karena diam-diam kita curiga bahwa pasangan-pasangan yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari perkawinan mereka. Mereka telah berlaku seperti wartawan yang terus berpedoman pada kredo usang: bad news is good news. Mereka curang karena menonjolkan keburukan yang cuma secuil di tengah kebaikan yang melimpah. Mereka menampilkan diri sebagai serangga yang terperangkap.

Mereka berlomba untuk tampil sebagai korban, bukan pelaku, dari perkawinan hasil kerja sama dengan pasangan masing-masing. Status sebagai korban memang menyamankan perasaan – dengan itu mereka bukan hanya tak bersalah atas ketaksempurnaan perkawinan mereka, tapi sekaligus menderita dan dirugikan akibat tindakan pasangan. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dalam menarik simpati daripada derita ganda ini.

Tapi katakanlah sinisme mereka sahih; bahwa mereka memang mewakili gejala yang makin umum tentang mengecewakannya perkawinan, seperti terlihat dari statistik perceraian yang meningkat di banyak tempat. Dengan semua itu agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri kebahagiaan dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab kita memaknai kebahagiaan lebih sebagai kata kerja ketimbang kata benda; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif dengan sepenuh kesungguhan, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena ia kita sangka bisa hadir begitu saja di ruang tamu rumah kita.

Ia pasti terkait erat dengan cinta yang enigmatik itu. Ada ribuan definisi cinta – dan tak ada yang memadai. Kamu boleh memilihnya satu atau beberapa sekaligus. Tapi saya harap kamu sepakat dengan rumusan yang saya ramu dari bahan-bahan Scott Peck: cinta adalah kehendak untuk melampaui kemampuan kita sendiri guna memungkinkan pasangan kita tumbuh secara spiritual.

Dan spiritualitas, seperti kita pahami bersama, bercakupan lebih luas daripada hal-ihwal yang terkait dengan agama, apalagi sekadar dengan aspek ritualnya. Spiritualitas membuat kita bersedia mendaki puncak-puncak kemanusiaan kita; juga membuat kita tak terpaku pada keremehan suatu benda, melainkan mengintai makna yang lebih dalam daripada arti yang lazim ditawarkan oleh benda itu. Seperti kata seorang bijak, “Jika kau tahu bagaimana proses mengelopaknya sekuntum bunga, maka seluruh hidupmu akan berubah.”

Cinta, bahagia, bunga – toh semuanya tak akan membuat perkawinan kita kebal dari pertengkaran. Dan jika itu harus terjadi, ingatlah bahwa kita tak akan meninggalkan gelanggang – dengan begitu, kita tahu bahwa meskipun kita sedang jengkel atau marah, kita tetap saling menyayangi. Jangan pernah lupa aturan utama dalam seni bertengkar ini.

Fathia sayang,

Tahukah kamu bahwa langit terpekat dalam suatu malam adalah di saat menjelang fajar? Ketika bertemu kamu, saya berada dalam kepekatan itu – saat-saat yang nyaris memutusasakan. Saya tahu, jika saya menyerah saya tidak akan berjumpa dengan fajar. Saya memutuskan untuk tidak menyerah.

Lalu di ujung malam yang legam itu saya sungguh-sungguh melihat fajar – kamu. Sekarang saya mengerti ungkapan di banyak lagu pop itu: you are the sunshine of my life. Sekarang saya percaya bahwa yang akan mengubah seluruh hidup saya bukan hanya proses mengelopaknya sekuntum bunga.

Belum pernah saya dicintai sedramatis dan seekspresif ini. Tapi, lebih daripada karena dicintai, saya bahagia karena mencintai kamu.

Kita akan selalu ingat Socrates. Kita akan memastikan bahwa salah satu di antara kita tidak akan jadi filosof…

Dengan pelukan terhangat,

Hamid Basyaib
Jakarta, 22 Maret 2007



















DSC_8096.JPG
 33 Comments 


47 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bataviarose wrote on Aug 18, '07
aduuuuuuh indahnya. kalo gua baca berulang-ulang, nanti bisa bisa gua yang jatuh cinta sama penulis surat :)
nadnuts wrote on Aug 18, '07
huuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaa so sweet...

*happy for fathia whose husband prefers to be honest about his not 100% love yet can write so beautifully for his beloved wife*

who needs a 100% love anyway?! ;D
kutuwell wrote on Aug 18, '07
Plok, plok, plok, applaus buat Hamid.
Fathia, your hubby is gorgeous.
imaabdul wrote on Aug 18, '07
how beautiful! once again congrats to you both. may the love you have for each other withstand the test of time.
rheamahney wrote on Aug 18, '07
aawww....he's a romantic:D agree with him that you don't love somebody 100%, it's so true. have a great week-end, fathia...
chaerani wrote on Aug 18, '07
eloquent sekali suamimu, selamat! Dan setuju dengan hamid, jangan mencintai seseorang (atau sesuatu, atau apapun, kecuali Tuhan) dengan 100 persen ;> It sounds bad for many people though...
fathiasyarif wrote on Aug 18, '07
eloquent sekali suamimu, selamat! Dan setuju dengan hamid, jangan mencintai seseorang (atau sesuatu, atau apapun, kecuali Tuhan) dengan 100 persen ;> It sounds bad for many people though...
Thanks Rani --- he is very eloquent. Its one of the reasons why I married him! :)
mayagauvin wrote on Aug 18, '07
jadi ngiri niy......
kamu sangat beruntung Fat...
salam buat kalian berdua.
mmuach,
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
yikk wrote on Aug 18, '07, edited on Aug 18, '07
"Saya akan menunggu dengan berdebar terungkapnya sejumlah alasan lain setelah kita hidup bersama nanti; saya akan ungkapkan dalam surat-surat selanjutnya, dengan mencicilnya, mungkin sampai bertahun-tahun lagi."

Will you keep sharing these with us? ;-)
And your beloved is so right: enough philosophers already! Sekali lagi selamat ya...
aviwulan wrote on Aug 18, '07
Very sweet.. hiks.....you're a very lucky girl,Fathia :))
ademoore wrote on Aug 18, '07
So sweet dear...
Have a great weekend.
ppramono wrote on Aug 18, '07
Fathia, sebenarnya aku nungguin photo pernikahan-mu, tapi baru lihat yang satu ini. Apakah ada album lain? :)

Suratnya benar2 panjang, cerdas dan romantik. Gak heran kamu jatuh cinta padanya. :)

Great choice, my dear.... :)
lsusianty wrote on Aug 18, '07
Fathia, benar kata Peter: Great Choice.! tadinya mau bilang kalo aku masih sendirian mau nanya ah Hamid punya kakak/adik lelaki yg kaya gitu juga ga...hahahah.
nhosen wrote on Aug 18, '07
Setiap membaca tulisan Hamid Basyaib saya selalu merasa ada pihak yang sedang disindir oleh tulisannya. Kali ini saya merasa saya yang sedang disindir :-) Saya belajar untuk memaknai kembali "jatuh cinta". Thanks yah...
awhitecallalily wrote on Aug 18, '07
Love in the heart and happiness in relationships.
fathiasyarif wrote on Aug 19, '07
Fathia, sebenarnya aku nungguin photo pernikahan-mu, tapi baru lihat yang satu ini. Apakah ada album lain? :)

Suratnya benar2 panjang, cerdas dan romantik. Gak heran kamu jatuh cinta padanya. :)

Great choice, my dear.... :)
Hi Peter.. apa kabar? sabar ya foto2 kawinannya. Multiply aku agak2 terlantar nih sejak aku kawin. Masih menyesuaikan diri. Hahaha.
Thanks for your comments, and yes, my husband is all that ( cerdas dan romantik) and more!:) . Jadi kamu ngerti kan kenapa aku bilang di suratku yang berjudul A Letter to My Husband that he has a beautiful mind?
fathiasyarif wrote on Aug 19, '07
Fathia, benar kata Peter: Great Choice.! tadinya mau bilang kalo aku masih sendirian mau nanya ah Hamid punya kakak/adik lelaki yg kaya gitu juga ga...hahahah.
Hahaha... no he doesnt. They're all married. Thanks for comments ya.

How are you Lenah? Kapan main ke Jakarta?
fathiasyarif wrote on Aug 19, '07
yikk said
"Saya akan menunggu dengan berdebar terungkapnya sejumlah alasan lain setelah kita hidup bersama nanti; saya akan ungkapkan dalam surat-surat selanjutnya, dengan mencicilnya, mungkin sampai bertahun-tahun lagi."

Will you keep sharing these with us? ;-)
And your beloved is so right: enough philosophers already! Sekali lagi selamat ya...
I'm so glad that aku gak bakat jadi filsuf, si Hamid juga kayaknya... :) Thanks doll for your comments.
tehmanis wrote on Aug 20, '07
swooooooooo swiiiiiiiiiiiiitt ;-)
irvanhassan wrote on Aug 29, '07
Fathia, selamat yach.....
sori saya tdk tahu perihal pernikahan kamu, jadi tidak hadir
pokoknya selamat menempuh hidup baru semoga selalu bersama sampai kakek nenek.
benar rosul juga bilang segala sesuatu yang berlebih akan berdampak buruk ( kalau saya ga salah ).
teman-teman PRODIN dan REPINDO sapa saja yang datang
susan73s wrote on Aug 30, '07
Panjang ya bowwwww...but it's so sweet... im so happy 4 u...
ninatamam wrote on Oct 1, '07
Loved it the 1st time I read it,
Still loving it now. :)

Smoga perkawinanmu ini bisa menambah babak yang seru buat buku kehidupanmu ya de. (yang udah seru juga seeeeh)
alia wrote on Dec 15, '07
BAGUS SEKALI!!!!!
Wowwww.... congrats for having a great husband like that :)

PS. Aku link yah :)
asyafrani wrote on Dec 30, '07
Mba Fathia, saya adalah orang yang selalu kagum dengan setiap kata yang diukir oleh Mas Hamid. Meski kalau setiap main ke Freedom Institute saya jarang terlibat pembicaraan dengannya, tapi saya suka gaya blak-blakan dan ceplas-ceplosnya. Semoga bahagia selalu...
f3nty wrote on Jan 6, '08
Hi Fathia! Salam kenal dariku dan teman-temanku. Kami semua pembaca Kolom-Kolom Kawin and we loved it... Cheeers..
fathiasyarif wrote on Jan 6, '08
Mba Fathia, saya adalah orang yang selalu kagum dengan setiap kata yang diukir oleh Mas Hamid. Meski kalau setiap main ke Freedom Institute saya jarang terlibat pembicaraan dengannya, tapi saya suka gaya blak-blakan dan ceplas-ceplosnya. Semoga bahagia selalu...
Thanks Andi for stoppy by and also for your comments. Nanti aku sampaikan ke Hamid. Best, Fathia
fathiasyarif wrote on Jan 6, '08
f3nty said
Hi Fathia! Salam kenal dariku dan teman-temanku. Kami semua pembaca Kolom-Kolom Kawin and we loved it... Cheeers..
Wah, wah, wah... I's so pleased to hear that..:) Glad you enjoyed it and hope to meet with you soon...
fathiasyarif wrote on Jan 6, '08
alia said
BAGUS SEKALI!!!!!
Wowwww.... congrats for having a great husband like that :)

PS. Aku link yah :)
Thanks ya jeng... :) Boleh di link, semoga bermanfaat.... Thanks for stopping by.
fathiasyarif wrote on Jan 7, '08
Loved it the 1st time I read it,
Still loving it now. :)

Smoga perkawinanmu ini bisa menambah babak yang seru buat buku kehidupanmu ya de. (yang udah seru juga seeeeh)
Thank u darling. Kamu juga kalau nulis surat cinta dahyat...:)
andijuanda wrote on Mar 3, '08
halo mba fathia, saya pembaca baru anda, :) n i love ur writes
andijuanda wrote on Mar 3, '08
n ur husband writes of course
radjanusantara wrote on Apr 16, '08
saya selalu mengagumi kepandaian Mas Hamid merangkai kata-kata..bahkan banyak kutipan yang saya simpan....
nofrins wrote on Apr 17, '08
Maaf Fathia, saya dikirimi link ini melalui YM dari temen ttg tulisan CINTA ini. Terpana saya bacanya... Salam hormat saya ke Mas Hamid.

BTW, kapan-kapan kalau Fathia ada niat mau berwisata ke Sumbar sama Mas Hamid. Saya sarankan untuk menikmati indahnya dinding-dinding Lembah Harau. Siapa tahu akan keluar untaian kata-kata cinta berikutnya dari Mas Hamid... It's so lovely and romantic place for who like to enjoy the nature...! Gak percaya..? Silahkan search dg keyword "harau" di menu Gallery - Advance Search di http://www.west-sumatra.com. Wass
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
shelomita81 wrote on Jun 14, '08
Wah, Mbak Fathia..Beruntung banget..
Belahan Jiwa anda adalah Orang yang Cukup Arif dan Bijaksana..
Tercermin dari setiap kalimat yang telah beliau persembahkan untuk anda..
Jadi..Ikutan Terharu nie..
Hiks..Hiks..Hiks..
Oh,Iya..Salam Kenal dari Saya..
Smoga mbak Fatjia tidak keberatan klo saya sering mampir untuk membaca BLOG anda..
dodohenny wrote on Jun 30, '08
Dalem banget, Mbak... :)

salam kenal, mbak fathia...
penyairkelana wrote on Jul 16, '08
:) jadi menginspirasi nih....
gemalaananda wrote on Jul 26, '08
aDE.. BENER-BENER BOTOL KETEMU TUTUP DEH KAYAKNYA (MEMINJAM ISTILAHNYA ORANG JAWA...).. SATU LAGI BUKTI BAHWA TUHAN MENEPATI JANJINYA BAHWA UNTUK SETIAP ORANG SUDAH DISEDIAKAN PASANGANNYA.. SUBHANALLAH!
nothinglastforever wrote on Jul 31, '08
Tahukah kamu bahwa langit terpekat dalam suatu malam adalah di saat menjelang fajar? Ketika bertemu kamu, saya berada dalam kepekatan itu – saat-saat yang nyaris memutusasakan. Saya tahu, jika saya menyerah saya tidak akan berjumpa dengan fajar. Saya memutuskan untuk tidak menyerah.

Lalu di ujung malam yang legam itu saya sungguh-sungguh melihat fajar – kamu. Sekarang saya mengerti ungkapan di banyak lagu pop itu: you are the sunshine of my life. Sekarang saya percaya bahwa yang akan mengubah seluruh hidup saya bukan hanya proses mengelopaknya sekuntum bunga.
bolehkan saya mengutip kalimat ini untuk tulisan di blog saya, krn inspiratif sekali.....
arku64 wrote on Aug 27, '08
bagus...
paknenino wrote on Nov 7, '09
Saya tidak kenal Hamid (hanya sering lihat di TV). Saya tidak kenal Fathia (baru tahu dari KOMPAS hari ini 8 N0p 09)
Setelah 2 tahun menikah dan punya anak, apakah Hamid masih romantis ya?
ratriy wrote on Nov 8, '09
yup, karena baca profil Mbak di Kompas, saya jadi tertarik buka blog Mbak Fathia..ijinkan saya untuk men-share alamat blog mbak Fathia agar teman2 saya bisa membaca keindahan tulisan-tulisan di dalamnya, termasuk tulisan mas Hamid ini..
danke..
lpaais wrote on Nov 10, '09
Sebuah pengakuan yang sangat bagus, jujur dan apa adanya.
febevivi wrote on Nov 11, '09
sama..karena aku baca kolom KOMPAS aku juga jadi tertarik baca ini dan terima kasih banyak sudah memberiku semangat tambahan untuk tidak takut pada pernikahan ;)
Add a Comment